fajarbengkulu, BENGKULU SELATAN – Jika Anda pernah datang ke acara bimbang atau pernikahan adat Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan, Anda pasti akan melihat sebuah wadah kecil dari kuningan atau piring yang berisi sirih, pinang, kapur, dan tembakau. Itulah Lengguai.
Bagi masyarakat di luar Bengkulu Selatan, Lengguai mungkin hanya terlihat seperti tempat sirih biasa. Namun bagi Suku Serawai, Lengguai adalah Rajau Pengulu atau Rajanya Para Penghulu. Keberadaannya wajib ada dan tidak bisa ditawar.
“Kalau dak ado Lengguai, berarti acara adat itu tidak sah. Lengguai itu lambang kesopanan, lambang kita menghormati tamu,” ujar Tetua Adat Serawai Kecamatan Seginim, Datuk Marwan (68), saat ditemui, Sabtu (26/09/2026).
Dijelaskan Datuk, Isi Lengguai Penuh Makna Filosofis. Lengguai bukanlah sekadar wadah. Di dalamnya terdapat 6 bahan utama yang masing-masing memiliki makna mendalam yaitu:
1. Sirih: Melambangkan kerendahan hati dan penghormatan.
2. Pinang: Melambangkan ketulusan dan kejujuran.
3. Kapur: Melambangkan hati yang putih dan bersih.
4. Gambir: Melambangkan kebijaksanaan.
5. Tembakau dan Rokok: Melambangkan keakraban dan perekat silaturahmi.
“Pada zaman nenek moyang, Lengguai terbuat dari bambu betung yang dianyam halus. Seiring perkembangan zaman, kini Lengguai banyak terbuat dari logam kuningan yang diukir indah, namun isinya tetap tidak berubah,” ujarnya.
Aturan Sakral:
Dibuka dan Dibungkus
Ada aturan adat yang unik terkait Lengguai, terutama dalam kesenian Tari Napa yang menjadi tarian sakral Serawai.
Menurut Datuk Marwan, jika Lengguai dibuka, itu pertanda bahwa musyawarah adat akan segera dimulai. Semua orang yang hadir harus duduk tenang dan mendengarkan.
Namun sebaliknya, jika ada pertunjukan Tari Napa, Lengguai harus dalam keadaan terbungkus kain.
“Kalau Tari Napa dimainkan, Lengguai harus dibungkus. Karena tari itu untuk hiburan, bukan untuk musyawarah. Tapi sebelum tari dimulai, Lengguai akan dibuka dulu untuk diperiksa, apakah isinya lengkap atau tidak. Kalau tidak lengkap, tari tidak boleh dimulai,” jelasnya.
Fungsi utama Lengguai saat ini adalah sebagai alat penyambut tamu kehormatan. Saat ada acara pinang bunang gadis (lamaran/tunangan), pihak keluarga perempuan akan menyuguhkan Lengguai kepada pihak keluarga laki-laki sebagai tanda kehormatan tertinggi.
Sang tamu wajib mengambil minimal satu lembar sirih dan mencicipinya sebagai tanda menerima penghormatan tersebut. Jika menolak, maka dianggap menolak silaturahmi.
Di tengah gempuran modernisasi, tradisi Lengguai masih terus dipegang teguh oleh masyarakat Bengkulu Selatan, khususnya di Kecamatan Seginim, Pino, dan Kedurang. Sanggar-sanggar seni seperti Sanggar Seni Sembah Lengguai di Pasar Manna bahkan menjadikan nama Lengguai sebagai nama sanggar untuk melestarikannya.
“Lengguai ini identitas kami. Selama adat Serawai masih ada, Lengguai akan tetap ada di tengah-tengah kami,” tutup Datuk Marwan.(Red)










