Kerap Dijuluki “Orang Gila”, Pria Ini Berharap Menjadikan Masyarakat Sekitar Sejahtera dan Bahagia

Minggu, 4 April 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

fajarbengkulu, Kisah – Sadiman atau biasa masyarakat sekitar memanggil Mbah Sadiman, memulai menghijaukan kembali hutan dikurun  tahun 1990-an. Saat itu kebakaran besar melanda hutan di lereng selatan Gunung Lawu, Jawa Tengah, membuat ratusan hektar hutan pinus menjadi abu dan membuat bukit-bukit tandus di tempatnya.

Selama beberapa dekade, puluhan desa di Kabupaten Wonogiri berjuang melawan kekeringan dan kelaparan, sampai seorang pahlawan yang tidak terduga mengambil alih dirinya untuk mengembalikan hutan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi dia dan warga sekitar.

Dikutip dari laman Facebook resmi Wonogiri Update Official, pria berusia 69 tahun itu telah bekerja tanpa henti untuk menanam pohon di perbukitan Jawa tengah setelah kebakaran hutan hampir mengeringkan sungai dan danau.

Sadiman adalah orang pertama yang menyadari bahwa kurangnya tanaman di sekitar desanya lah yang menyebabkan aliran udara dan akses air bersih menjadi sangat sulit.

Sejujurnya, gagasan bahwa satu orang dapat menghidupkan kembali hutan seluas ratusan hektar memang terdengar gila, namun hal ini tak menggetarkan Sadiman.  Sadiman benar-benar menjadi pahlawan lokal yang terkenal meski butuh lebih dari satu dekade untuk mewujudkannya.

Ketika pertama kali menghabiskan uangnya sendiri untuk membeli bibit beringin, dia kerap dijuluki sebagai “orang gila”. Sadiman bahkan rela menjual ternak yang dia pelihara untuk membeli bibit.

“Orang-orang menertawakan saya karena membawa bibit pohon beringin ke desa, karena mereka merasa tidak tenang karena mereka yakin ada roh di pohon-pohon ini,” ujar Sadiman.

Diperkirakan bahwa Sadiman seorang diri telah menanam lebih dari 11.000 pohon selama 25 tahun tetapi butuh waktu sekitar satu dekade agar pohon-pohon tersebut tumbuh lebat. Saat ribuan pohon muda yang dia tanam tumbuh besar, tumbuhan lain mulai berkembang di daerah itu.

Kini saat hujan mulai turun lebih sering orang-orang akhirnya mengerti tujuan dari pohon-pohon itu. Sadiman bukan lagi orang gila, tetapi pahlawan yang patut dipuji.

Selama bertahun-tahun, hutan lebat seluas 25 hektar ini dikenal sebagai “Hutan Sadiman” dan menjadi salah satu tujuan wisata alam paling populer di Indonesia. Sejak saat itu, hutan ini menginspirasi beberapa perkebunan pohon massal lainnya di daerah tersebut, dan tetap menjadi simbol dari apa yang dapat dicapai melalui dedikasi dan ketekunan, bahkan oleh satu orang.

“Saya berharap orang-orang di sini dapat memiliki hidup sejahtera dan hidup bahagia. Dan jangan membakar hutan berulang-ulang,” tutup Sadiman. (**)

Referensi

Baca Juga

Pemdes Pyang Mbik Salurkan BLT DD kepada 13 Keluarga Penerima Manfaat
Kapolda Bengkulu Laksanakan Peninjauan dan Pengecekan Personel serta Sarana Prasarana di Mapolda Bengkulu
IGD RSUD Lebong Tingkatkan Kualitas dan Kedisiplinan Pelayanan Medis
Polda Bengkulu Pastikan Penanganan Dugaan Ancaman Wartawan Dilakukan Profesional
Petani Lebong Tengah Akhiri Hidupnya di Atap Dapur
Gedung Koperasi Merah Putih Desa Tanggo Raso Selesai 100 Persen
Diduga Todong Wartawan Pakai Pistol, Anak Oknum Polisi Dilaporkan ke Polda Bengkulu
Antisipasi Tindak Pidana 3C, Kapolsek Kota Manna Turun Langsung Gelar Patroli Malam

Baca Juga

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:40 WIB

Pemdes Pyang Mbik Salurkan BLT DD kepada 13 Keluarga Penerima Manfaat

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:54 WIB

Kapolda Bengkulu Laksanakan Peninjauan dan Pengecekan Personel serta Sarana Prasarana di Mapolda Bengkulu

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:30 WIB

IGD RSUD Lebong Tingkatkan Kualitas dan Kedisiplinan Pelayanan Medis

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:05 WIB

Polda Bengkulu Pastikan Penanganan Dugaan Ancaman Wartawan Dilakukan Profesional

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:39 WIB

Petani Lebong Tengah Akhiri Hidupnya di Atap Dapur

Berita Terbaru

TKP remaja gandir

Daerah

Petani Lebong Tengah Akhiri Hidupnya di Atap Dapur

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:39 WIB